Matahari begitu membakar kota Tuban pada siang hari, kala itu. Terlihat sesosok pria paruh baya tiba-tiba berhenti ketika iya sedang membawa Vespa tuanya.  Mulai menyandarkan sepedahnya dan mulai sibuk dengan membuka pantat kanan Vespanya.  Mengelap dahi penuh keringan dengan lengannya karena kedua tangan sibuk dengan busi dan kuas, dan mulai menstarter Vespanya sekuat tenaga. Belum ada tanda-tanda Vespa itu akan berfungsi dengan semestinya. Beberapa pengguna jalan terus jalan dengan mengacuhkan pria paruh baya tersebut. Pejalan kaki juga tetap berjalan dan hanya melihat-lihat saja.

Sudah satu jam lebih pria itu duduk ditepi jalan disamping Vespanya, bukan meratapi nasibnya melainkan mengamati apa yang salah dengan Vespanya.  Tak lama kemudian munculan seorang pria muda dengan Vespanya dan langusng berhenti dibelakan pria paruh baya tersebut. Pria muda itu mulai menyapnya dan berjabat tangan. Tak lama, keduanya asyik ngobrol sambil mengotak-atik vespa yang akhirnya bisa kembali melibas jalanan. Tak ada uang, tak ada pamrih, hanya ada persaudaraan.

Kisah kecil di atas adalah satu aksi solidaritas antar pengendara vespa yang jarang dijumpai pada pengendara motor lain. Aksi saling bantu ini reflek dilakukan skuteris tanpa melihat komunitas, asal daerah, jenis vespa, gender bahkan strata sosial. Kekompakan pengendara vespa ini adalah bukti nyata dari slogan mereka, satu vespa sejuta saudara.

Solidaritas semacam ini harusnya ditiru oleh semua komunitas maupun perorangan. Solidaritas membuat kita punya banyak saudara, banyak teman, dan banyak pahala.

(mad/vespapora)

 

LEAVE A REPLY