Saat itu hari Sabtu, udara di luar sangat mendung. Arman sedang mengendarai mobil barunya-Toyota Rush warna merah. Ia baru saja kembali dari Mall, membeli beberapa paket CFC. Sebenarnya, ia tak punya niat untuk membeli, tapi karena ada hadiah mainan di paketnya, ia menjadi gelap mata.
Arman hendak menuju pulang ke apartemen barunya, yang belum cukup satu minggu ia tempati. Ia sendiri juga masih belum percaya akan semua ini, mobil merah, apartemen mewah, ditambah jumlah uang di rekening yang melimpah, seolah-olah ia hidup pada dimensi lain antah-berantah. Jika diingat-ingat bagaimana ia bisa meraih semua ini, ia hanya bisa tertawa dalam hati.
Semua itu berawal dari satu bulan yang lalu, saat itu tanpa sengaja ia melihat ada iklan orang yang membutuhkan ginjal. Gila pikirnya, tawaran uang yang ditawarkan di iklan tersebut sangat luar biasa. Karena lama tidak bekerja, tanpa pikir panjang ia pun merespon iklan tersebut, dan dengan sadar, ia menjual ginjalnya.
Maka, di sinilah ia hari ini, menikmati uang hasil jual-beli organ tubuhnya sendiri. Sakit. Tapi setimpal, pikirnya.
***
Perlahan mobil Arman menepi pada sebuah simpang lampu merah. Dari dalam mobil, ia bisa melihat seorang cewek penjaja koran mengangkat sebuat tabloid dengan headline, “Ramadan kian dekat, Prilly mantap berhijab.” Ia hanya tersenyum dan bergumam dalam hati.
Tiba-tiba, kaca mobilnya diketuk oleh seseorang–cowok.
“Permisi…, kasihan bang. Saya sudah tiga hari gak makan,” kata cowok itu.
Arman menoleh, dan berfikir sejenak. Makanan yang dibelinya tadi sangat banyak, sementara ia hanya tinggal sendiri di apartemen.
“Bang, kasihanilah bang…” ulang cowok tersebut.
Arman melirik tubuh cowok itu sampai ke mata kaki. Kurus, putih, dan tampan. Ia tafsir usianya tak lebih dari 22 tahun. Lampu sudah berubah menjadi kuning, pertanda sebentar lagi semua kendaraan harus bergerak.
“Ya udah kamu masuk, ikut saya,” kata Arman.
Cowok itu pun segera menuruti perintah Arman.
Lampu hijau menyala, mobil Arman pun melanjutkan perjalanan.
“Nama saya, Dede.” Ujar cowok tersebut mengulurkan tangan.
Arman hanya diam tak bereaksi.
Sesampainya di depan apartemen, Arman masuk dan berhenti di depan gerbang.
“Parkir di tempat biasa ya pak,” ucap Arman pada sekuriti.
“Ayo ikut,” Arman mengajak Dede untuk mengikuti langkahnya.
Persis di derpan gerbang, Arman disambut oleh sekuriti lain.
“Selamat datang kembali di The Peak Apartemen, Mas Arman,” ujar sekuriti itu ramah sambil membungkukkan badan.
Arman terus berjalan seenaknya, tanpa membalas sapaan sekuriti.
“Maaf, anda siapa? dan mau ke mana?” tanya sekuriti pada Dede.
“Oh, dia teman saya Pak,” sahut Arman cepat.
“Ayo cepat sini, kamarku di lantai 27,” teriak Arman pada Dede.
***
Berdua, Arman dan Dede bergegas naik lift menuju lantai 27.
“Sebelah sini,” ucap Arman. Ia mengajak Dede berbelok ke kanan, ke kamar nomor 273, dan membuka pintu.
“Masuk aja, anggap rumahmu sendiri,” seru Arman sambil menaruh makanan yang dijinjingnya sedari tadi.
“Kamu makan ini. Aku belinya kebanyakan, yang aku incar sih hadiahnya saja,” jelas Arman sambil tertawa.
“Duduk di sini de, kamu habisin aja semua, kan udah tiga hari belum makan, pantes kurus gitu,” kata Arman lagi, panjang lebar.
Arman memperhatikan Dede makan, sepertinya ia tidak lahap–tidak seperti orang yang belum makan tiga hari.
“Kamu benar, sudah tiga hari belum makan?” tanya Arman penasaran.
“Sebenarnya ini hanya tantangan dari teman, saya bohong,” balas Dede tertawa kecil.
“Apa? Bohong?? Kamu pikir itu lucu???” Arman murka.
“Iya, haha, maaf kalau leluconku payah,” kata Dede berusaha mencairkan suasana.
Arman berlalu dan menghilang menuju dapur, mengambil sesuatu.
Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa seutas tali. Secepat kilat, Arman mengikat Dede yang masih duduk di kursi.
“Apa-apaan ini?” tanya Dede heran.
“Kamu pikir dirimu lucu, hah???” Arman tampak sangat berang.
“Ta…tapi aku kan sudah minta maaf,” rintih Dede.
Namun Arman tak menggubrisnya, ia terus mengikat Dede makin kencang–dan mulai mengelitiknya.
“HAHAHAHA, hentikan…” Dede berusaha menahan geli.
“Gimana? Sekarang siapa yang lucu?” tanya Arman sambil terus menggelitiknya.
“HAHAHAHA, ini sudah tidak lucu. Aku kesulitan bernafas dan bicara,” rintih Dede.
Percuma, Arman terus mengelitiknya makin keras dan dalam. Dede mulai merasa perutnya tergores kuku tangan Arman yang panjang.
“Kau pikir dirimu lucu? Ttdak ada orang yang boleh lebih lucu dari aku,” Arman terus menggeltik Dede.
Sekarang jari-jarinya mulai masuk ke rongga-rongga perut Dede.
“Sakit, HAHAHAHA, SAKIT~…” tawa dan teriak Dede bercampur menjadi satu, “MAAFKAN AKU~… HAHAHAHAHAHA~… SAKIT!!!”
Dede meronta-ronta berusaha membebaskan diri.
“Terlambat, tidak ada orang yang boleh lucu dari aku. TIDAK ADA!!!”
Arman membenamkan kuku-kuku tangannya lebih dalam.
Semakin dalam, sampai ia merasa telah menyentuh usus-usus tubuh Dede.
***
Dengan kedua tangan bersimbah darah, Arman berjalan ke arah kamar mandi dan menatap kaca di wastafel.
“Mirror mirror on the wall. who’s the funniest guy in the world?” Ia bertanya pada kaca.
Bayangan di balik kaca mengedip pelan, dan membalas.
“YOU.”
———
Selesai.

Haris R.