Kecelakaan pesawat AirAsia penerbangan QZ8501 di Laut Jawa, dekat perairan Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, yang diperkirakan menewaskan seluruh penumpangnya kembali mengingatkan pentingnya keselamatan bagi penumpang, terutama saat pesawat mendarat darurat, baik di darat maupun laut. Hampir sebagian besar penumpang pesawat mengabaikan arahan maupun petujuk yang telah diberikan awak kabin.

Sikap abai ini membuat sebagian besar dilanda kepanikan ketika pesawat mengalami guncangan, atau menukik ke bawah. Tak terkecuali ketika pesawat berhasil mendarat darurat, kepanikan bisa menyebabkan kematian yang seharusnya tidak terjadi.

Terkait kejadian beberapa kecelakaan udara, termasuk yang menimpa AirAsia, pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, setiap penumpang yang akan memasuki pesawat harus memperhatikan petunjuk-petunjuk keamanan dan keselamatan yang diberikan pihak maskapai maupun awak kabin. Selain itu, penumpang disarankan agar tidak panik ketika terjadi gangguan pada pesawat.

“Penumpang sejak masuk pesawat harus perhatikan pengarahan dari awak kabin. Jadi kalau ada peragaan kondisi darurat diperhatikan,” ujar Alvin.

Selain memperhatikan instruksi awak kabin, penumpang juga diharapkan untuk mengetahui jarak dari tempat duduknya menuju pintu darurat, caranya dengan menghitung jumlah kursi dari pintu darurat hingga ke kursi penumpang yang bersangkutan. Langkah ini sangat penting dilakukan, mengingat keadaan darurat membuat penerangan di pesawat dimatikan.

“Walau di lantai pesawat ada lampu yang menuju ke arah pintu atau jendela darurat pesawat, ada baiknya tetap di hitung karena bisa saja lampu itu mati karena kondisi tertentu,” lanjut Alvin.

Menurut Alvin tidak ada kursi dalam pesawat yang menjamin penumpang bisa selamat jika terjadi kecelakaan, sebab semua jenis pesawat sudah diatur jumlah pintu darurat yang disediakan. Hal itu bertujuan jika terjadi kondisi darurat, seisi pesawat bisa segera dievakuasi dalam waktu maksimal 60 detik.

Selain kondisi pesawat yang sudah diatur sedemikian rupa, jumlah awak pesawat juga ditentukan sesuai jumlah penumpang. Tiap satu awak kabin memiliki tanggung jawab terhadap maksimal 50 orang penumpang. “Sehingga saat kondisi darurat semua awak kabin sudah tahu tanggung jawabnya masing-masing,” imbuhnya.

Alvin juga mengatakan, tidak ada batas waktu pasti bagi korban yang selamat untuk bertahan hidup dalam pendaratan darurat di laut. “Tergantung kondisi laut dan sebagainya,” tutupnya.