“Perkenalannya dengan golf dimulai sejak masih duduk di sekolah dasar. Kini, golf memberinya banyak manfaat, termasuk dalam bisnis.”

Tantangan di lapangan golf memang memberi keasyikan tersendiri. Didukung hamparan rumput hijau dan panorama alam terbuka yang segar, mampu menepis semua rasa lelah dan kejenuhan. Golf bagi kebanyakan orang merupakan jenis permainan kelas atas, namun sekarang golf bukan hanya sebagai permainan saja melainkan sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

“Dibanding di kantor yang terkesan formal, lebih baik di sini (golf). Di sini, kita leluasa berkomunikasi dan lebih rileks kondisinya,”

Edo2Golf di Indonesia juga tidak dipersepsikan hanya sebagai olahraga untuk menyehatkan badan saja, melainkan sudah menjadi sarana entertaintment dan bersosialisasi antarpecinta olahraga ini. Bahkan, ada pula beberapa pandangan yang menganggap bahwa golf merupakan sarana efektif untuk menjalin kegiatan bisnis.

Hal itulah yang dirasakan benar oleh Edward Samantha Ginting Munthe selaku Vice President Marketing PT NS BlueScope Indonesia. Ia mengaku, awalnya menganggap golf hanya sekadar untuk menjaga kebugaran. Namun, ketika dipercaya mengemban jabatan strategis di salah satu perusahaan produksi material dan penyedia baja lapis ini, ia mulai merasakan dampak positif lain dari olahraga ini. “Bagi saya, olahraga ini tak hanya sekadar buat tubuh sehat. Ibaratnya, ada simbosis mualisme atau keuntungan lain yang didapat. Di mana olahraga ini sangat efektif dijadikan sebagai sarana untuk doing business dengan relasi atau klien,” ujar Edo, sapaan akrabnya kepada CEPA Magz saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Tak heran, bagi Edo olahraga golf sudah menjadi agenda rutin yang dilakukannya setiap bulan. Dalam sebulan, Ia mengaku bisa enam kali bermain golf. Kegiatan olahraga golf tersebut, mayoritas dilakukannya bersama relasi bisnis atau klien untuk melakukan make a deal business. “Dibanding di kantor yang terkesan formal, lebih baik di sini (golf ). Di sini, kita leluasa berkomunikasi dan lebih rileks kondisinya. Di golf juga saya bisa mengenal beragam karakter relasi yang berbeda-beda lebih dalam lagi, itu saya jadikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya dalam menghadapi karakter relasi lain,” ungkap pria berkacamata ini.

Ia juga tak menampik, ada banyak inspirasi datang dari arena golf. Ketika pegolf sedang ada masalah di tempat kerja, maupun masalah yang sulit terpecahkan, Ia memilih golf untuk tempat refreshing. Karena tak jarang usai golf, masalah yang sulit dipecahkan bisa ditemukan solusinya. “Olahraga ini bikin fresh pikiran. Bisa saya ibaratkan, golf sebagai tempat stress release. Jadi, main golf itu tak hanya dengan relasi saja, kadang saya bermain dengan teman dekat. Untuk fun aja,” tuturnya.

Meski sibuk di pekerjaan dan dunia golf-nya, pria jebolan Monash Mt Eliza Business School ini tak lantas mengeyampingkan urusan keluarga. Ia mengaku, istri maupun buah hatinya tak merasa terbebani dengan rutinitasnya saat ini. Hanya saja, Edo dituntut untuk pandai membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. “Keluarga tak ada masalah. Meski saya sibuk kerja dan di golf, mereka (istri dan anak) sudah mengerti tuntutan pekerjaan saya seperti itu. Kadang,

 saya main golfnya bersama anak saya. Kebetulan, anak saya yang satu hobi juga main golf, bahkan saya selalu kalah kalau bertanding dengan dia. Biasanya sih main di Royale Golf Indonesia dan Sentul Highland Golf,” ujarnya.

 “Dulu pas pelajar, saya sempat ikut PON. Tapi, setelah masuk SMA dan kuliah, kegiatan saya bermain golf berkurang.

MENGENAL GOLF

Pria kelahiran 8 April 1974 ini mengenal olahraga golf sejak duduk di bangku sekolah kelas 4 sekolah dasar. Perkenalannya terhadap olahraga golf ini sudah dimulai semenjak ia diajak orangtuanya yang kala itu sudah terjun bermain golf. Seringnya diajak ke golf course, Edo pun mulai tertarik untuk menggeluti olahraga ini. “Wah, kalau golf saya dari SD sudah dikenalkan orangtua saya. Pas diajak, saya penasaran ikut-ikutan mukul stick golf, dari situ saya penasaran dan terus menggelutinya,” kenang Edo.

Kecintaannya terhadap olahraga golf dibuktikannya dengan berbagai prestasi yang cukup membanggakan. Bahkan, Edo kecil sempat menjadi atlet olahraga golf dan mengikuti kejuaraan golf Pekan Olahraga Nasional (PON) 1986 di Magelang, Jawa Tengah. “Dulu pas pelajar, saya sempat ikut PON. Tapi, setelah masuk SMA dan kuliah, kegiatan saya bermain golf berkurang,” ujar Edo.

Edo3Justru, lanjutnya, ketika mulai bekerja seperti sekarang ini, Edo mengaku mulai aktif kembali bermain golf. Meskipun itu sekadar fun ataupun melalukan aktivitas bisnis, Edo selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bermain golf. Eksistensinya di dunia golf amatir pun ditujukkannya dengan bergabung di beberapa klub golf. Sinabung Golf Club misalnya. “Saya memang tergabung di beberapa klub golf, namun tak terlalu aktif sekarang,” ungkapnya sambil tersenyum.

Ketika ditanya soal perkembangan golf Indonesia, Ia berpendapat golf di Tanah Air lambat laun terus maju. Baik dari fasilitas lapangan maupun bibit muda golf. Hanya saja, menurutnya, masyarakat Indonesia masih skeptis akan profesi sebagai atlet golf. Di mana, masyarakat masih menilai dari olahraga tak semua bisa sukses di segala hal. Terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Tak hanya golf, di olahraga lain juga seperti itu. Masih banyak yang menilai, seorang atlet bukan profesi yang ideal. Mereka lebih memilih sebagai pekerja,” kata Edo. Ditambahkannya, meski begitu, Ia optimistis perkembangan golf di Tanah Air ke depannya akan maju.

050614