Cinta beda Illah

Aku sekarang seorang mahasiswa UNSERA (Universitas Serang Raya), di Serang, Banten, sudah 3,5 tahun ini aku menjadi  mahasiswa. Namaku Hadi Hadin, berusia 22 tahun. Aku masuk di fakultas agama islam dengan jurusan  perbankan syariah. Bukan suatu kebetulan aku memilih perbankan syariah sebagai jurusan kuliahku. Aku telah merencanakannya sejak SMA, karena aku melihat tayangan televisi yang menyatakan prospek yang bagus perbankan syariah di masa depan. Aku pun membaca berbagai buku mengenai hal-ihwal tentang perbankan syariah khususnya dan ekonomi islam pada umumnya. Lewat ekonomi islam aku terkagum-kagum akan prinsip-prinsip pokok atau dasarnya, yaitu,

  1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah SWT kepada manusia.
  2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
  3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
  4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
  5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
  6. Seorang muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari penentuan di akhirat nanti.
  7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).
  8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Dan sebagai kepanjangan tangan atau produk dari ekonomi  islam adalah perbankan syariah. Kalian mungkin bertanya-tanya apa sih perbankan syariah itu? Dan apa bedanya dengan perbankan konvensional? Berikut aku jelaskan sedikit, dalam UU No.21 tahun 2008 mengenai Perbankan Syariah mengemukakan pengertian perbankan syariah dan pengertian bank syariah. Perbankan Syariah yaitu segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, mencakup kegiatan usaha, serta tata cara dan proses di dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Berikut pengertian perbankan syariah menurut para pakar,

  1. Pengertian Bank SyariahMenurut Sudarsono, Bank Syariah adalah lembaga keuangan negara yang memberikan kredit dan jasa-jasa lainnya di dalam lalu lintas pembayaran dan juga peredaran uang yang beroperasi dengan menggunakan prinsip-prinsip syariah atau islam.
  1. Menurut Perwataatmadja, Pengertian Bank Syariahadalah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah (islam) dan tata caranya didasarkan pada ketentuan Al-quran dan Hadist.
  1. Siamat Dahlammengemukakan Pengertian Bank Syariah, Bank Syariah merupakan bank yang menjalankan usahanya berdasar prinsip-prinsip syariah yang didasarkan pada alquran dan hadits.
  1. Pengerian Bank Syariahmenurut Schaik, Bank Syariah adalah suatu bentuk dari bank modren yang didasarkan pada hukum islam, yang dikembangkan pada abad pertenganhan islam dengan menggunakan konsep bagi resiko sebagai sistem utama dan meniadakan sistem keuangan yang didasarkan pada kepastian dan keuntungan yang telah ditentukan sebelumnya.

Perbedaan perbankan syariah dan perbankan konvensional,

  1. Perbedaan Falsafah Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan melalu bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak seperti efek bola salju pada cerita di awal artikel ini. Sangat menguntungkan saya tapi berakibat fatal untuk banknya. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan keuntungan besar disuatu pihak namun kerugian besar dipihak lain, atau malah ke dua-duanya.
  2. Konsep Pengelolaan Dana Nasabah Dalam sistem bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya mem-bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, didalamnya terdapat pula risiko untuk menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik keuntungan maupun risiko.

Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur dana nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau investasi tadi kemudian, dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam traksaksi perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Hasil keuntungan dari pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada nasabah. Hasil usaha semakin tingi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan bank kepada dan nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya. Jadi konsep bagi hasil hanya bisa berjalan jika dana nasabah di bank di investasikan terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan. Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya.

Dengan demikian sistem bagi hasil membuat besar kecilnya keuntungan yang diterima nasabah mengikuti besar kecilnya keuntungan bank syariah. Semakin besar keuntungan bank syariah semakin besar pula keuntungan nasabahnya. Berbeda dengan bank konvensional, keuntungan banknya tidak dibagikan kepada nasabahnya. Tidak peduli berapapun jumlah keuntungan bank konvesional, nasabah hanya dibayar sejumlah prosentase dari dana yang disimpannya saja.

  1. Kewajiban Mengelola Zakat Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib membayar zakat, menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat. Infak, sedekah)
  2. Struktur Organisasi Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktifitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sangsi.
  3. Bagaimana Nasabah Mendapat Keuntungan? Jika bank konvensional membayar bunga kepada nasabahnya, maka bank syariah membayar bagi hasil keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan bagi hasil ini ditetapkan dengan suatu angka ratio bagi hasil atau nisbah. Nisbah antara bank dengan nasabahnya ditentukan di awal, misalnya ditentukan porsi masing-masing pihak 60:40, yang berarti atas hasil usaha yang diperolah akan didisitribusikan sebesar 60% bagi nasabah dan 40% bagi bank. Angka nisbah ini dengan mudah Anda dapatkan informasinya dengan bertanya ke customer service atau datang langsung dan melihat papan display “ Perhitungan dan Distribusi Bagi Hasil” yang ada di cabang bank syariah.

Nah, karena alasan itulah aku memilih perbankan syariah sebagai jurusan yang menurutku jurusan yang semoga di berkahi oleh Allah swt. Sudah 3,5 tahun aku berkuliah di UNSERA, sebentar lagi atau 1 semester lagi aku lulus. Nilai-nilaiku lumayan bagus, rata-rata IP (Indeks Prestasiku) diatas 3,5, yang juga diatas rata kelasku. Di satu sisi aku ingin cepat lulus dan segera bekerja untuk meringankan beban orang tuaku, serta mebahagiakannya, mungkin nanti aku bisa memberangkatkan bapak dan ibuku ke tanah suci, amin. Tapi di sisi lain aku tidak ingin lulus cepat-cepat, karena aku ingin terus-terus dekat dengan seorang wanita, namanya Siti Hawa. Ia termasuk mahasisiwi yang terpintar di kelasku, ia juga seorang hafidzah yang telah hapal 30 juz Alquran. Sangat wajar karena ia lulusan dari pesantren terkenal di Jawa Timur. Aku juga seorang hafidz tapi hanya 7 juz yang aku hafal, malu rasanya bila dibandingkan dengan Hawa yang menghafal seluruh ayat dalam alquran.

Ia tidak begitu cantik, tapi ia manis, ramah, dan selalu menebarkan senyum indahnya. Kalau boleh dibilang ia adalah wanita yang disarankan dipilih oleh Rasulullah saw dalam hadist yang sangat populer,

yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)

Menurut hadist diatas, kita kaum pria hendaknya memilih wanita yang baik agamanya, bukan karena kecantikannya, keturunannya, atau hartanya. Karena dengan memilih wanita yang baik agamanya, kita akan selamat dunia dan akhirat. Kalau kita memilih karena kecantikannya, kecantikan akan termakan usia, kalau karena keturunannya, belum tentu wanita tersebut baik sesuai dengan kakek buyutnya, bisa jadi seseorang baik tapi keturunan di atasnya buruk. Kalau karena hartanya, maka harta akan habis. Hawa adalah wanita impian banyak laki-laki di kampusku. Tapi sangat beruntungnya aku karena ia cukup dekat denganku, tak tahu mengapa ia memlih untuk menjadikanku temannya. Aku sangat sering berbagi pengetahuan tentang mata kuliah yang diajarkan, berdikusi, tanya jawab sampai berdebat via BBM. Karena ia sangat sulit mengajaknya keluar rumah, karena ia sangat menjaga dirinya. Tapi aku sangat suka sikapnya demikian karena ia sangat terjaga dari gangguan jail laki-laki.

Tapi wanita populer di kampusku tidak hanya Hawa, tapi ada juga Michele, seorang wanita keturunan Inggris, tapi bahasa indonesianya sangat lancar, karena ia pindah sekolah ke Indonesia sejak SMA. Ia seorang Kristen Protestan, yang lebih toleran dari pada Kristen Katolik. Suatu yang sangat langka, ia non muslim tapi berminat untuk belajar perbankan syariah. Mungkin ia merasa ekonomi islam lebih baik dari perbankan konvensioanal. Ia pun cukup pintar, sama seperti Hawa. Kalau boleh dibilang secara tidak langsung mereka adalah saingan. Ia juga dekat denganku, sama seperti Hawa, boleh dibilang perhatianku selalu tercurah kepada mereka, Hawa dan Michele. Berbeda dengan Michele, Hawa, sangat anti dengan yang namanya pacaran, menurutnya, pacaran hanya akan menjerumuskan manusia kepada perzinahan dan perilaku lain yang menyimpang dari ajaran islam, tapi ia mensahkan apa yang di sebut Ta’aruf, atau saling mengenal satu sama lain. Tapi Michele tidak, ia berpendapat bahwa pacaran sangat penting sebagai penjajakan sebelum terjadi pernikahan, pada saat pacaran kita akan tahu sifat masing-masing dan supaya tidak menyesal nanti setelah terjadi pernikahan. Alasan keduanya memang masuk akal, aku bingung prinsip mana yang benar.

Sejujurnya aku mencintai dan sayang keduanya, hanya saja aku bingung harus memilih yang mana yang mungkin akan menjadi istriku nanti. Aku belum mengutarakan kepada salah satunya atau keduanya tentang ketertarikanku. Karena aku ragu, tapi apakah mereka merasakan hal yang sama denganku. Tapi dari tingkah lakunya kemungkinan besar Michele juga mempunyai rasa yang sama denganku, tapi sangat berbeda dengan Hawa, ia sama sekali tidak menujukkan gelagat yang sama denganku, ia agak misterius. Aku berusah ingin mengutarakannya kepada Michele lewat BBM.

Aku:”Apa kabar Michele?Kau disana”

Michele:”Ya Hadi, ada apa?”

Aku:”Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbicara sesuatu kepadamu”

Michele:”Bicara apa? Bicara saja”

Aku:”Sudah 3,5 tahun kita saling mengenal dan sudah tahu karakter masing-masing. Aku rasa sudah saatnya aku mengutarakan ini padamu. Sejujurnya aku tertarik padamu, tapi sejujurnya pula aku tertarik pula dengan wanita lain. Bagaimana menurutmu?”

Michele:”Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Itu terserah padamu kau memlih siapa. Kalau aku boleh tau siapa wanita itu?”

Aku:”Ia adalah Hawa, tapi aku belum mengutarankan perasaanku kepadanya. Bagaimana menurutmu?”

Michele:”Segera utarakanlah kepadanya. Kalau ia lebih baik daripadaku, pilihlah ia, aku tak keberatan.”

Aku sangat kagum dengan kebesaran hati Michele, walaupun ia non muslim, tapi sikapnya sungguh islami, kemudian aku menghubungi Hawa,

Aku:” Hai Hawa? Apa kabar? Kau sedang apa?”

Hawa”Aku baik-baik saja, aku baru saja selesai sholat Isya. Ada apa Hadi, apa kau kesulitan mengerjakan tugas?”

Aku:”Tidak, kebetulan tugasku dapat aku kerjakan. Aku ingin berbicara sesuatu yang serius kepadamu. Apakah kau sudah ada seseorang yang dekat denganmu sekarang? Sejujurnya aku tertarik kepadamu dan sudah 3 tahun kita saling mengenal, itu sudah cukup lama. Bisakah kita bersama untuk seterusnya. Tapi aku juga menyukai Michele dan ia juga menyukai ku, bagaimana menurutmu?”

Hawa:”Kalau aku bagaimana Allah swt saja, kalau Allah swt tidak mengizinkan aku dengan kau, maka aku tidak akan berjodoh dengan kau. Tapi jika Allah swt mengizinkan aku berjodoh dengan kau maka kau akan menjadi pasanganku.”

Aku sangat terkesan dengan jawaban dari Michele dan Hawa, aku sangat bingung, aku harus memilih yang mana. Kemudian aku teringat aku satu surat dalam Alquran, yaitu surat Al Baqarah 221, “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .”

Ayat diatas menerangkan bahwa seharusnya laki-laki muslim memilih wanita muslim pula, bukan wanita non muslim, walaupun wanita non mislim tersebut sangat menarik hati. Pada mulanya aku bimbang harus memilih yang mana, tapi dengan adanya surat dalam Alquran diatas, aku mantap memilih Hawa sebagai jodohku. Aku berbicara kepada Michele akan pilihanku karena Alquran surat Al Baqarah ayat 221. Ia berbicara ia tidak apa-apa, tapi aku mendengarnya lewat telepon ia sedikit menahan isak tangis. Berat rasanya meninggalkan orang yang kita cintai, tapi mau bagaimana lagi, aku harus memilih. Satu tahun kemudian setelah akau mendapatkan pekerjaan, aku melamar Hawa, dan ia menerima lamaranku, lalu kamipun menikah.

Dan setahun kemudian pula kami mempunyai momongan pertama kami, berkelamin laki-laki, kami beri nama Muhammad  Adam. Nama tersebut hasil rembukan aku dengan Hawa. Dan kemudian aku diberitahukan oleh Hawa bahwa Michele kini telah menjadi mualaf. Tanpa aku ketahui ternyata mereka masih berkomunikasi. Alangkah terkejut bahagianya aku mendengar kabar tersebut, alhamdulillah Michele telah mendapat hidayah dari Allah swt. Andai saja ia menjadi mualaf sejak dulu, mungkin ada kemungkinan aku memilih Michele sebagai pasanganku. Kemudian tiba-tiba Hawa berbicara kepadaku,

Hawa:”Aku tahu kau masih menyukainya hingga kini, aku tahu dari wajah dan matamu ketika aku sebutkan namanya, kau tidak bisa membohongiku. Nikahilah ia, ia telah menjadi muslim sekarang.”

Aku:”Apa maksudmu? Aku mencintaimu, tidak mungkin aku menikah lagi dengan orang lain. Lagi pula poligami itu besar tanggung jawabnya, jika tidak bisa adil, aku bisa berdosa dunia dan akhirat.”

Hawa:”Aku ikhlas jika hal itu bisa membahagiakanmu dengan menikahi dua orang yang kau cintai, lagi pula itu  diperbolehkan dalam islaml. Aku yakin kau dapat berlaku adil, kau laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.”

Aku terkejut sekaligus senang, bisa menikahi dua orang yang aku cintai, bukan karena hawa nafsu tapi karena aku sayang dan ingin membahagiakan keduanya lewat ikatan pernikahan. Aku segera menghubungi Michele dan melakukan pendekatan, aku juga menanyakan alasannya menjadi mualaf. Katanya telah terbukti kebenaran Al quran yang tidak mungkin buatan manusia, termasuk Rasulullah. Beberapa lama kemudian aku melamarnya, walaupun menjadi istri keduaku ia menerima lamaranku. Mungkin ia telah membaca surat Al Baqarah ayat 221 dan surat An Nisa ayat 3,

maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya

Dari ayat diatas menunjukkan di perbolehkan mempunyai istri lebih dari satu dan kurang dari empat. Dan ayat tersebut menyebutkan pula bahwa jika tidak biadil, maka seorang istri saja. Tapi Hawa berbicara bahwa ia dan Michele akan membantunya untuk berlaku adil kepada keduanya. Akhirnya aku pun menikah untuk kedua kalinya dengan Michele. Alhamdulillah pernikahan poligami kamipun berlangsung dengan bahagia dan mudah-mudahan pernikahan kami di restui dan diberkahi oleh Allah swt, amin.