picture by : liputan6

“Hari ini matahari bersinar terang”, kata pohon kepada rumput dibawahnya. “Tapi aku tidak pernah merasakan hangatnya”, keluh rumput. “Apa warna sinar matahari?” rumput tetap penasaran, “Yaaa…hanya sinar, sedikit putih bercampur kuning”, jelas pohon. “Tidak sekalipun aku melihat warna sinar”, lirih suara rumput menjawab. “Lihat…perempuan itu sudah datang”, seru pohon. “Apakah yang dia bawa hari ini?” rumput mencoba meninggikan batangnya. “Seperti biasa, bunga lili putih”, sahut pohon.

Aku berjalan pelan tetapi pasti, karena langkah kakiku sangat hapal dengan batu batu dibawah sepatuku, bahkan tanpa melihat pun, aku akan sampai tanpa kesulitan. Karena tempat itu selalu menjadi pembuka hari yang wajib aku kunjungi, hari dan jam sama, sebelum aku memulai pekerjaan. Aromanya menjadi bagian dari isi paru paruku. Hanya pada saat itu aku merasa sangat hidup. Bunga lili kesayanganmu pun sudah aku bawa, akan aku letakkan di tempat yang sama dengan permintaanmu saat itu. Jangan kuatir aku akan lupa, karena semuanya sudah menyatu dengan aliran darah di hatiku, jadi, melupakan ritual ini adalah kehampaan yang amat aku takutkan.

Memperoleh dirimu adalah proses teramat panjang bagiku, banyak luka meninggalkan bekas, juga tetesan air mata yang mungkin seperti hujan di musimnya. Bila luka hanya mengores kulit, maka tak butuh waktu untuk penawarnya, tetapi luka itu bertengger di dalam hati. Menghujam dalam dan berakar. Jika saja boleh memilih, maka aku akan membuang semuanya, asalkan kamu ada. Kamu pasti mengetahuinya karena kamu adalah bagian dari diriku.

Jangan pernah engkau mempertanyakan, tentang besarnya cinta kepadaku, kamu ada karena cinta. Sekali kali jangan kau larang aku melindungimu, menjaga rasa yang kadangkala menyebar nyeri. Bila kamu merasa aku terlalu membelenggu, maafkan aku, aku terlalu mencintaimu.

Sesungguhnya, kamu kekuatan yang menopangku, saat semuanya begitu tak mampu kumengerti, maka memandang wajahmu, adalah caraku mengapai harapan.

“Perempuan itu sudah sampai di tempat biasanya” lapor pohon kepada rumput. “Sedang apakah dia sekarang?” tanya rumput. “Seperti biasa, meletakkan bunga lili,lalu memejamkan mata” pohon menjelaskan. “Bisakah kamu mendengar kata yang keluar dari perempuan itu ?” rumput masih penasaran. “Seandainya aku bisa, aku yakin pasti kata kata itu seindah bunga lilinya” sahut pohon.

Aku masih punya banyak waktu hari ini, karena ini hari istimewamu. Hari dimana aku dapat menjawab semua tudingan dengan gagah. Hari dimana aku menatap mata mereka tanpa gentar, karena aku sudah memenuhi standart konyol yang tak mampu aku lawan, tapi hari ini disaat kamu datang, adalah hari aku merasa sama dengan mereka. Kamu akan tahu, jika kamu bersamaku lebih lama lagi, tapi semua hidup membawa ceritanya masing masing. Kamu bukan hanya datang lalu pergi. Tetapi kamu datang mengubahku, bahkan sejak kepergiannmu, aku tetap mampu menatap mata mereka tanpa gentar. Jadi biarkan aku selalu datang.

Kamu dulu berkata padaku,”Jangan berhenti untuk hidup, ambil sebanyak banyaknya semua kesempatan untuk meraih mimpimu”, dan aku berjanji akan melakukanya. “Pergilah, kau mengelilingi dunia, seperti mimpimu” katamu suatu hari. “Mimpiku adalah selalu bersamamu” jawabku. Sambil memutar mutar cangkir berisi susu hangat, kau pun bercerita tentang semua mimpimu “ aku ingin mempunyai mesin waktu, jadi aku selalu dapat kembali pulang, bila aku rindu padamu”, Hangat sekali pelukanmu saat itu, dengan sedikit kumis susu di atas bibirmu.

Seandainya mesin waktumu sudah ada, akan aku putar pada waktu aku masih bisa memelukmu, setelah itu mesin waktu akan aku matikan, sehingga kamu tidak akan pernah pergi.”Aku hanya ingin merasakan lagi dan lagi dan lagi”.

“Jangan menyerah, karena harapan adalah energi kehidupan” selalu lelaki pendiam itu memberiku semangat. Tetapi apakah lelaki itu memahami, bahwa sakit yang ditimbulkan dari cibiran diam diam, bahkan kata kata kasar yang terucap dari sekitar, semakin menambah dalam luka ini.    Tanpa aku sadari, diam diam aku mulai membangun benteng tinggi, setinggi yang dapat aku jangkau, agar aku tak mendengar ataupun merasakan semua bisik bisik yang terdengar sangat amat keras, menghantam gendang telinga sampai ke dasar hati lalu menyeruak dan mengakar, membelit serta melilit, membuat lara semakin menyayat.

Aku bukan wanita tanpa hati, tetapi aku membuang hatiku, karena hati itu terlalu koyak, aku hidup bagai manusia tanpa jiwa, seonggok daging kosong tak terisi roh. Lelaki pendiam itu tetap setia menemani, menjaga hangatnya janji awal. Janji akan menerima apa adanya. Saling menghormati serta jujur satu sama lain. Ikatan lelaki itu dan aku, memberi sedikit ruang untuk mencari energi, yang aku butuhkan untuk sedikit memiliki asa.Itu rasaku saat kamu belum datang.

Pohon, memberi isyarat kepada rumput “liat,liat, perempuan itu mengusap matanya”, rumputpun hanya menunduk, karena dia pun diam diam merasakan sesak.

Hari dimana kamu datang, adalah waktu yang teramat aku ingat, dari semua memory dalam hidupku. Itu adalah dimana aku berani mengangkat muka serta meruntuhkan dinding tinggiku. Aku menatap mata semua orang tanpa ragu. Aku buktikan, bahwa aku adalah perempuan sempurna. Aku tersenyum serta melupakan sakit, membuat hati baru dengan rajutan cinta. Aaaah…sangat indah, kalau ada rasa yang melebihi bahagia, maka hari itu aku merasakannya.

Gerakanmu, kata katamu, bahkan nafasmu, aku sangat hafal. Kamu adalah bagian dariku, bagian terbaik dari aku. Aku tak peduli dengan semua rasa nyeri yang dulu ada, semua impas dengan hadirmu. Bukan hanya raga tetapi jiwaku pun mulai mengembang. Indah.

Detikku menjadi hangat dan jam bukan lagi hantu yang menakutkan, melainkan perputaran warna pelangi…aku dan lelaki pendiam itu menjadi warga yang bisa disebut normal. Konyol memang standart disekitar, tapi kami hidup di dalamnya. Kamu bukan hanya mengisi kosong, tetapi juga menghapus ketaknormalan kami, menurut mereka.

“Apa yang sekarang dia lakukan?” tanya rumput dengan usahanya meninggikan batang. “Dia masih bersenandung dalam hati” jawab pohon sambil mengayunkan dahan.

Anakku, kata itu begitu ajaib, karena aku baru mampu mengucapkan setelah kamu datang, diantara keajaiban dalam hidupku, kamu keajaiban terbesar, mujijat yang hanya mampu aku harapkan, tanpa berani menanti menjadi nyata. Tetapi alam semesta selalu punya cerita sendiri, dan kali ini cerita semesta membuang semua kegelisahan kami.

Kamu, anakku, bagian dariku dan lelaki pendiam yang setia. Pertumbuh bukan hanya milikmu, tetapi milik kami, melengkapi semua ruang hampa di dalam hati seiring besarnya dirimu. Ingatkah kau, ketika kamu bertanya, “ Ibu, darimanakah aku?”, aku yang saat itu sedang menulis, sempat terdiam, lalu aku mendekat dan memelukmu, kukatakan “ Kamu berasal dari hati kami, anakku, kenapa engkau bertanya?” Kamu menyurukkan kepala ke dadaku, dan berkata “Aku mencintaimu ibu”…Aaaahhh…rasanya aku rela menukar semuanya, asalkan kamu tetap milikku.

Menjadi bagian dari hidupmu adalah keinginan terbesarku, melihatmu jatuh cinta, merupakan episode yang paling aku nantikan. Dan tahukah kamu, saat kamu dengan malu malu mencoba berbagi rahasia terbesarmu. Waktu kamu gelisah, dan hanya menjawab sepatah sepatah,maka aku menunggu kamu membuka hati. Lalu malam itu setelah makan, seperti biasa, bila kamu mempunyai kegelisahan, kamu akan meminum susu hangat tanpa mengusap mulut, dan kumis susu itu tercipta lucu diatas bibirmu, aku sudah bersiap menerima semua ceritamu. Ketika tersebut nama wanita yang berhasil membuatmu gundah, aku hanya memelukmu serta kukatakan “ Jangan takut dengan cinta, anakku”. Sejak itu duniamu menjadi penuh senyum, waktumu menjadi sedikit berkurang bagi kami. Juga ketika cinta itu berlalu dari hidupmu, aku sediakan pelukkan untukmu.

Memulai ceritamu sendiri dengan wanita yang telah memilih dan kamu pilih, adalah peristiwa yang spesial, bagimu dan bagi kami. Aku tidak iri dengan kebahagiaanmu, karena kamu tetap bagian dariku. Sesuatu yang sudah tertulis di atas sana dan tidak ada yang mampu menghapusnya.

Pohon mengoyang goyangkan dahannya, sehingga beberapa daun jatuh, “apakah dia terganggu dengan daunmu?” tanya rumput. Pohon menjawab “Jangankan guguran daunku, hujan es pun tak akan dirasakannya”.

Aku mati rasa saat kabar tentang kepergianmu singgah di telinga. Duniaku runtuh, raga dan jiwaku tak lagi menyatu. Air mata sudah tak mampu kupaksa keluar. Lelaki setia itu diam tetapi aku tahu jiwanyapun entah kemana. Aku membenci hatiku, karena ia mulai berdarah lagi, aku membuangnya untuk kedua kali, dan semua itu terkait ada dan tiadanya kamu.

Hari hariku menjadi kelabu bahkan hitam membeku, aku bergerak, bernafas namun tanpa makna. Kembali, waktu adalah hantu gentayangan yang sangat menyebalkan. Aku tetap hidup tetapi merasakan mati adalah keinginanku.

Rumput bergerak gelisah, mengeserkan batangnya pada kaki pohon, “ Siapa itu yang berjalan mendekat?” tanyanya. Pohon berhenti mengoyangkan dahan, lalu terdiam “tunggu, ada kaki kecil mendekati perempuan itu”. “Siapa..siapa?” tanya rumput. “aku tak tahu” balas pohon.

Anakku, selamat ulang tahun. Siapkan tempat bagi ku dan lelaki setia, diatas sana. Kami akan datang setelah tugas kami selesai. Tugas yang kau wariskan. Seorang lelaki kecil yang memiliki hidung serta tatapan tajammu. Senyumnya sama dengan wanita pilihanmu. Selamat jalan anakku, jagalah wanita pilihanmu disana. Akan kami jaga lelaki kecil kalian.

Pohon tiba tiba bergoyang cepat. Rumput tersedak karena goyangan itu membuat batangnya meliuk. “Ada apa disana?” tanyanya terkejut. “Aaahhh…lelaki kecil itu serupa dengan foto diatas kedua pusara ini” jawab pohon sedikit serak. “Kemana mereka sekarang?” tanya rumput. “Mereka telah pergi” jawab pohon. “liat perempuan itu mengendong lelaki kecilnya, melangkah menuju mobil hitam didepan sana” jelas pohon dengan rinci. Rumputpun menjulurkan batang setinggi yang dia mampu. Dilihatnya, perempuan tadi berjalan ringan, menuju lelaki tinggi langsing yang setia menunggu disamping mobil hitam mengkilat. Bertiga mereka memasuki mobil.

Pohon tetap mengoyangkan dahannya seiring hembusan angin. Rumput meliukkan batangnya, seakan menarikan tarian semesta. Mendendangkan lagu seirama tiupan bayu. Dan pusara menjadi saksi setiap hati yang kembali.

By : Ida Dwicahyaningtias, S.Psi,